CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 13 Maret 2012

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Komunikasi adalah jembatan antara diri kita dengan dunia luar. Semakin baik dan lancar komunikasi kita, maka akan semakin bagus hubungan kita dengan dunia luar. Semakin bagus komunikasi kita berarti akan semakin sedikit kesalahpahaman yang terjadi dengan orang lain. Seorang ibu adalah matahari di keluarganya, semua kebiasaanny a akan menular kepada anak-anaknya. Apabila seorang ibu mempunyai kemampuan komunikasi yang bagus, sang anak pun akan mewarisnya.
Sebuah kesuksesan sangat erat hubungannya dengan komunikasi. Biasanya orang-orang sukses meiliki kemampuan komunikasi yang bagus. Disamping itu mereka juga memilki kebiasaan yang tidak sewajarnya, tidak dikerjakan orang-orang pada umumnya, abnormality. Sukses bisa dikatakan sama dengan abnormality karena mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh orang lain. Jika kebanyakan orang tidur 8 jam per hari, maka orang sukses mungkin hanya tidur 4 jam per hari. Jika orang pada umumnya orang berpikiran mengikuti arus masyarakat, maka orang sukses akan berpikir diluar mainstream dsb.
Disamping bersifat abnormal, orang sukses biasanya juga memiliki mental warrior (pejuang sejati yang tidak pernah menyerah terhadap kondisi apapun). Hilangkanlah mental Mr. Ah Bad yang selalu menyalahkan keadaan di luar dirinya yang selalu buruk, selalu menyalahkan orang lain. Jauhi mental Mr. Coldwater yang selalu menanggapi dingin orang lain, tidak pernah antusias. Jauhi mental Mr.LoseLose sang pecundang sejati, kalah sebelum bertanding. Jika kita bisa menghilangan mental Mr.Ah Bad, Mr.Coldwater, Mr. LoseLose dari dalam diri kita terlebih dulu, maka komunikasi kita akan jauh lebih produktif. Komunikasi akan produktif jika paradigma di dalam diri kita positif lebih dahulu.
Disamping paradigma positif lebih dulu, kesuksesan komunikasi juga sangat ditentukan oleh pemilihan kata-kata. Kosakata adalah output dari cara kita berpikir. Jika cara berpikir kita positif maka outputnya berupa kosakata yang positif pula dan begitu sebaliknya. Kosakata juga memiliki energi. Jika kita memilih kosakata yang positif maka akan berimbas positif pula terhadap diri kita. Contoh, apabila kita sedang dilanda masalah besar dan kita mengatakan kepada diri sendiri atau orang lain dengan kata “masalah” serta ekspresi wajah berkerut, bahu tertunduk, maka semakin beratlah masalah tersebut. Tapi jika kita menyebutnya dengan “tantangan” dengan ekspresi wajah bersinar-sinar dan bahu tegap , maka otak kita secara otomatis akan bekerja mencari solusi dari masalah tersebut. Begitu pula dengan kata “susah” yang menyebabkan otak kita ditimpa beban berat sekali, bila diganti dengan kata”tantangan” akan menyebakan otak lebih ringan bekerja. Pemilihan kata akan memberi efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup kita lebih berenergi dan lebih bermakna. Pemilihan diksi (kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya. Jika diri kita emosinal, maka kemungkinan diksi kita juga emosional. Jika diri kita wise maka kosakata kita pun ikut bijak.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar komunikasi kita lebih produktif :

1. Otak tidak bisa memahami kata “JANGAN”.
Contoh : Jangan bayangkan ada kucing betina, manis, langsing berwarna putih yang memakai dasi kupu-kupu di lehernya dan ekornya mencuat ke atas. Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kita justru membayangkan kucing tersebut secara detail. Otak kita tidak bisa memahami perintah “Jangan”.

2. Keep Information Short & Simple (KISS).
Kita akan lebih mudah memahami informasi yang simpel, kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk. Contoh : “Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur, taruh baju kotor di mesin cuci, kemudian sisirlah rambutmu, rapikan tempat tidurmu, kerjakan PR mu, matikan komputer, baru boleh main.” Apa yang terjadi? Sang Anak lupa semua perintah ibunya, karena perintahnya terlalu banyak. Otak tidak bisa mencerna dengan baik kalimat majemuk yang terlalu panjang.

3. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah.
Berdasarkan hasil penelitian, keefektifan komunikasi ditentukan oleh :
• Verbal : 7%
• Non Verbal : 93% (Intonasi 38%, Body Language 55% )
Contoh :
1. “Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
2. “Nak, tolong ambilkan buku itu !” ( tegas, merengut, tanpa menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan senang hati. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku sambil merengut pula.
4. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan.
Contoh :
1. “Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan belajar giat”
2. “Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
Perintah pada poin 1 jelas dan mudah dipahami, anak akan menangkap dan memahami pesan tersebut sebagaimana yang dimaksudkan ibunya. Sedangkan poin 2, pesan yang ditangkap adalah jangan ngegame terus.

5. Fokus ke depan, bukan masa lalu
Contoh :
1. “Nak, hasil raportmu kurang bagus. Ibu berharap semester depan belajar lebih giat lagi dan nilai matematika minimal 7.”
2. “Nak, nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
Poin 1 fokus ke depan, anak bisa menangkap maksud ibunya dengan bagus. Poin 2 fokus pada masa lalu, tidak jelas maksud yang diinginkan.

6. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

7. Fokus pada solusi bukan pada masalah
Kebanyakan orang fokus pada masalah bukan solusi. Hal ini menyebabkan masalah berlarut-larut tanpa ada solusi sehingga masalah semakin menumpuk. Contoh : Ada seorang anak menelpon ibunya sambil menangis karena menjatuhkan piring. Anak tersebut kebingungan cara membereskan pecahan piring. Ibu yang berorientasi pada solusi akan menyuruh anak tersebut untuk memakai sandal, mengambil lap basah, membersihkan pecahan piring tersebut dengan lap basah, kemudian membuang pecahan piring beserta lap basahnya sekalian. Sedangkan ibu yang berorientasi pada masalah akan menanyakan faktor penyebab jatuhnya piring serta menyalahkan keteledoran anak. Hal ini menyebabkan anak merasa jengkel dimarahi ibunya, sehingga ada kemungkinan dia membersihkan pecahan piring dengan teledor yang bisa mengakibatkan tangannya berdarah terkena kaca.

8. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Umar bin Khattab ra berkata,”Catatlah kebaikan anak dan lupakanlah kesalahannya”. Semua kebaikan dan keberhasilan anak hendaklah diberi pujian secara lisan. Hal ini sangat penting karena akan menimbulkan rasa percaya diri dan meningkatkan harga diri anak. Sedangkan kesalahan anak, kita boleh mengkritiknya, setelah itu lupakanlah. Kita ungkapkan secara lisan kritikan terhadap kesalahan anak tidak didepan anggota keluarga lainnya, hanya empat mata antara kita dengan dirinya. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga harga dirinya. Setelah kita mengkritik dan memarahi anak, peluklah ia, katakan padanya bahwa sebenarnya kita marah justru karena sangat menyayanginya.

Itulah tip-tips praktis agar komunikasi kita semakin produktif dan kita bisa menghindari miskomunikasi seminimal mungkin. Dengan demikian maksud yang ingin kita sampaikan bisa ditangkap dengan jelas oleh komunikan, terutama oleh anak-anak kita. Karena anak yang terbiasa berkomunikasi bagus dengan ibunya, akan meneruskan kebiasaan tersebut kepada lingkungan sekitarnya. Kemampuan komunikasi adalah salah satu faktor pendukung utama kesuksesan seseorang. Tentunya kita tidak ingin anak terhambat kesuksesannya karena faktor komunikasi yang buruk.

0 komentar:

Poskan Komentar